Menu

Persiapan Kuliah

Panduan ini akan membantumu untuk menyusun rencana kuliah dari bangku sekolah, mengenali bidang-bidang program studi kuliah, serta memilih kampus yang paling tepat buatmu.

Seberapa Penting Mengenali Kepribadian dan Minatmu untuk Memilih Program Studi?

Salah satu problem klasik calon mahasiswa yang adalah… galau menentukan program studi kuliah. Untuk mencari jawabannya, kadang kamu sampai bengong di kamar mandi, sibuk tanya keluarga, tanya teman, atau tanya dukun, eh, pacar.

Padahal, menurut Anna Vedel, psikolog dari Universitas Aarhus, Denmark, proses memilih program studi untuk berkuliah ujung-ujungnya bakal balik lagi ditentukan oleh kepribadian masing-masing. Kenapa?

Tanpa kamu sadari, kegalauan itu ternyata bisa muncul karena kamu belum mampu mengenal dirimu sendiri dengan baik. Beda cerita jika kamu sudah mengetahuinya: kamu bisa memilih program studi yang sesuai dengan karakteristikmu dan kesukaanmu, dan akan kecil kemungkinan kamu nggak akan enjoy menjalaninya—karena program studi itu pastinya program studi yang kamu banget!

Selain dapat menentukan program studi pilihan yang spesifik, kepribadian dan minatmu juga memberikan energi positif untuk membantumu mengejar cita-cita. Bayangin, deh, kalau kamu terlanjur memilih program studi sebelum mengenali kepribadian dan minatmu. Kalau cocok, oke lah. Kalau nggak cocok, pasti kamu nggak bakal semangat dalam menuntut ilmu di sana, dan bahkan sampai kepikiran untuk pindah jurusan. Duh!

Jadi, sebelum memutuskan program studi, kampus, dan profesi mana yang harus kamu pilih, coba deh, analisa sikap dan minat yang kamu miliki, karier seperti apa yang kamu mau, serta kesan yang ingin kamu tampilkan ke orang lain.

 

Minat ≠ Passion!

"Udah segede gini, tapi, kok, gue belum punya tujuan hidup, ya? Jangankan tujuan hidup, hobi aja nggak punya!"

Apakah kamu termasuk yang merasa begini?

Minat itu pasti akan selalu ada, tapi menemukan minat yang awet itu susahnya minta ampun. Apalagi ketika masih muda gini, kamu masih dalam masa pencarian jati diri, sehingga gampang latah alias ikut-ikutan. Pas lagi demam K-pop, kamu ikut-ikutan nge-fans. Nggak lama kemudian, kamu pindah minat ke vlogging, padahal baru aja ikutan workshop fashion design. Labil banget!

Yup, minat adalah ketertarikan seseorang terhadap suatu bidang—dan bisa jadi seseorang memiliki lebih dari satu, atau berubah. Jarang banget ada seseorang memiliki minat yang bisa bertahan lama. Makanya, kamu butuh komitmen untuk mengetes apakah kesukaanmu hanya sebatas minat, atau bisa dianggap sebagai passion.

Lalu gimana, dong, cara untuk menemukan passion yang benar-benar sesuai dengan karakter kamu? Nggak mau ‘kan kalau sampai kamu selalu melakukan sesuatu yang angin-anginan, sehingga kamu dianggap labil dan nggak punya pendirian?

Inilah 5 hal yang bisa kamu lakukan untuk menemukan passion-mu.

  1. Tetap membuka diri terhadap hal-hal baru

    Ada banyaaak banget hal-hal di luar sana yang belum kamu ketahui. Nggak usah dicari ke ujung dunia, deh. Di sekitar kamu aja pasti ada komunitas unik, profesi yang nggak pernah kamu ketahui sebelumnya, atau bahkan keahlian khusus yang dimiliki oleh teman-temanmu.

    Nah, untuk bisa menemukan minat yang spesifik, perluaslah wawasan kamu. Banyak-banyaklah membaca—mulai dari buku, majalah, koran, sampai artikel-artikel seru di Youthmanual—dan bukalah pikiran kamu terhadap ide-ide baru di sekitar kamu.

    Supaya apa? Supaya kamu tahu sebanyak-banyaknya tentang berbagai bidang yang ada di dunia ini. Siapa tahu salah satunya ada yang nyantol jadi passion!

    Kalau kamu cuma berkutat dengan hal-hal yang kamu tahu saat ini, bisa-bisa kamu nggak akan menemukan passion kamu yang sebenarnya. Siapa tahu kamu punya minat dan bakat terpendam. Ya, ‘kan?
     
  2. Memperluas pergaulan dan pertemanan

    Kalau kamu sekedar tahu tentang sebuah kegiatan baru, mungkin kamu nggak akan terlalu tertarik buat nguliknya. Tetapi kalau kamu kenal sama orang-orang yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut, pasti kamu bakal lebih tertarik untuk terlibat di dalamnya, karena kamu bisa melihat perkembangan kegiatan tersebut secara langsung.

    Jadi mumpung masih muda, perluas, deh, pergaulan kamu. Tentunya pergaulan yang positif, ya. Temukan teman-teman baru yang bisa bikin kamu jauh lebih berkembang.
     
  3. Ikuti rasa ingin tahu

    Rasa penasaran adalah pendorong utama kamu untuk terus menggali hal-hal yang sebenarnya kamu senangi dan membuat kamu nyaman saat melakukannya.

    Misalnya, kamu senang meneliti dan penasaran dengan ilmu alam. Ikuti terus aja rasa penasaran kamu, sampai kamu yakin banget bahwa meneliti alam memang hal yang kamu senangi dan bikin kamu nyaman, dan bukan sekedar kegiatan yang kamu lakukan hanya karena disuruh guru Biologi.
     
  4. Pilah-pilih dan buat prioritas

    Semakin banyak kamu memperluas wawasan dan pergaulan, semakin banyak minat baru yang kamu temukan. Mungkin kamu berbakat dan berminat terhadap beberapa hal sekaligus, tapi jangan maruk juga, ya. Kamu harus pintar memilah mana aja yang benar-benar kamu senangi dan mana aja yang sekiranya nggak akan kamu senangi dalam waktu lama.

    Misalnya, kamu suka dengan bidang musik dan ingin mendalami sound engineering, tapi kamu juga tertarik dengan fotografi. Pilih salah satu dulu aja nggak apa-apa, kok. Kalau kamu memilih bidang musik, rencana gabung dengan komunitas fotografinya ditunda dulu, deh. Kalau sound engineering-nya sudah mantap—dan kamu punya waktu lebih luang—kamu selalu bisa kembali belajar fotografi.
     
  5. Berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan

    Setelah kamu mantap memutuskan mau menekuni apa, kamu harus yakin dulu bahwa kamu nyaman untuk mendalami hal tersebut, tanpa ada intervensi dari pihak mana pun. Setelah yakin, berarti saatnya kamu bertekad untuk mengasah kemampuan dan mencicipi “asam garam” dalam hal tersebut.

    Ini dia, nih, saat terpenting yang membedakan antara minat dan passion—kamu butuh waktu dan komitmen yang kuat untuk membuktikan kesetiaanmu terhadap suatu hal. Seandainya kamu menemukan kegagalan dan semangatmu berkurang tiba-tiba di tengah jalan, ada kemungkinan hal tersebut bukanlah passion-mu. Tapi, jika kamu mampu menjalaninya tanpa keluhan, nggak berkecil hati ketika merasa stuck, sering dikritik, dan semakin terpacu meskipun menemui banyak kendala, artinya kamu sudah menemukan passion-mu. Selamat!

 

passion

 

Ukur Kemampuan Diri untuk Memaksimalkan Potensi

Setelah mengetahui kepribadian dan minatmu, jangan lupa untuk mengukur sejauh mana kemampuan diri yang kamu miliki dan menyesuaikannya dengan program studi yang kamu pilih. Meskipun kamu sudah tahu program studi apa yang cocok dengan kepribadian dan minatmu, bukan berarti kamu sudah memiliki kemampuan yang cukup dan sesuai dengan kualifikasi program studi tersebut.

Tapi, piye kabare kalau kamu susah nyocokin antara apa yang kamu dengan apa yang kamu mampu? Yup, problem sebagian besar calon mahasiswa yang datang dan mengadu ke Youthmanual adalah ketika mereka ragu untuk memilih program studi yang mereka minati, tapi ngerasa kemampuan yang dimiliki nggak mencukupi. Seperti...

“Kak, aku bercita-cita mau jadi dokter, tapi aku lemah di pelajaran biologi. Bisa nggak ya aku masuk jurusan kedokteran?”

“Kak, aku minat jurusan ilmu komunikasi, tapi nggak jago bahasa inggris. Gimana ya?”

“Kak, aku pengen banget kuliah jurusan aktuaria. Tapi di sekolah matematika dan fisika remed terus?”

...dan pertanyaan “Kak begini-Kak begitu” lainnya.

Dari sekian ribu calon mahasiswa dan sekian ratus pilihan program studi yang ingin dipilih, esensi dari pergalauan ini adalah ‘mau-tapi-nggak-mampu’. Galaunya kebawa sampai nggak bisa tidur berminggu-minggu. Kayak kasih tak sampai, gitu. Ahay.

Nggak lucu, dong, ketika milih program studi, minat sampai nggak sejalan dengan kemampuan. Kamu harus tahu kemampuan seperti apa yang harus dimiliki untuk mengerjakan sesuatu, dan juga kemampuan terkait yang sudah kamu miliki saat ini. Itulah alasannya kenapa mengukur kemampuan penting banget untuk dilakukan agar kamu bisa memahami apa saja potensi yang bisa kamu optimalkan dan kelemahan apa yang bisa kamu atasi dalam dirimu.

Menurut Shanti Nurfianti Andin M.Psi, Psikolog Pendidikan, memilih program studi kuliah yang “gue banget” bermodalkan minat aja ternyata nggak cukup!

“Jadi, minat aja nggak cukup untuk kamu bisa sukses di suatu program studi. Kemampuan yang relevan juga dibutuhkan. Bukan berarti kalau kemampuan seseorang belum sesuai sama kebutuhan program studi yang diminati berarti dia pasti nggak bisa ngikutin perkuliahan, tapi artinya usaha yang harus dikeluarkan pasti akan jauh lebih besar.” jelas Kak Shanti.

Lagipula, ada baiknya kalau ada hal yang perlu diluruskan dari kegalauan ini, gaes. Soalnya, problemnya bukanlah bisa atau nggaknya kamu masuk program studi tersebut, tapi bisa atau nggaknya kamu bertahan di program studi tersebut ketika kuliah nanti.

Kalau kata Kak Shanti, “Misalnya, kalau ada mau masuk program studi rumpun teknik tapi di SMA kesulitan pas mata pelajaran Fisika, ya dia akan lebih struggling pas kuliah nanti dibanding yang sudah bisa menguasai Fisika dengan lebih baik. Atau kalau masuk Psikologi tapi pas SMA kesulitan di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dia jadi harus usaha lebih untuk paham materi-materi yang berbahasa inggris dan menulis laporan/esai/makalah dalam bahasa indonesia maupun inggris. Boro-boro sukses, bisa kuat ngejalaninnya aja rasanya udah effort banget.”

Trus, kalau minat sama program studi tapi ngerasa nggak mampu, lebih baik tetep maksa masuk program studi tersebut atau pilih program studi lain yang lebih cocok dengan kemampuan?

Ini balik lagi ke kamu. Coba tanyakan ke diri sendiri: kalau kamu menyadari kemampuanmu masih kurang, sejauh mana kamu mau berjuang meningkatkan kemampuanmu demi program studi yang kamu minati itu?

Dalam menentukan program studi kuliah, kamu calon mahasiswa baiknya coba menggunakan metode “tarik ke belakang” untuk memilih program studi kuliah. Coba bayangkan mimpi, aspirasi, atau profesi idamanmu di masa depan. Kira-kira, jalan pendidikan seperti apa yang paling sejalan dengan cita-citamu tersebut? Whenever you’re in doubt, hal itulah yang harusnya menjadi pedoman kamu dalam menentukan program studi kuliah yang paling tepat buat kamu.

Kamu pun tetap punya kuasa penuh untuk memilih masa depanmu sendiri. Kalau kamu sudah bertekad untuk mengejar cita-citamu, harusnya pertanyaan ini kamu ajukan ke dirimu sendiri, bukan ke orang tua, guru BK, atau mentor-mentor Youthmanual. Seberapa kuat tekadmu untuk mau meningkatkan kemampuanmu untuk berjuang masuk dan menuntut ilmu di program studi impian?

Oya, Setiap orang memiliki tingkat penguasaan kemampuan yang berbeda-beda di setiap dimensinya. Makanya, nggak ada satu tips dan metode pakem pun yang bisa digunakan untuk “memukul rata” kemampuan masing-masing. Kamu hanya perlu untuk mengenali kelemahanmu yang berkaitan dengan program studi idaman, lalu berusahalah untuk meningkatkannya.

Kemampuan, tuh, nggak akan stuck di situ-situ aja. Dan semua orang pasti memiliki level kemampuan yang berbeda beda di tiap aspek. Selama kamu punya semangat untuk meningkatkannya, kamu akan bisa mewujudkan mimpi-mimpimu dengan jauh lebih mudah.

Oya, sedikit banyak, penguasaan mata pelajaran di sekolah memang mempengaruhi mampu atau tidaknya seseorang berkuliah di program studi tertentu. Intinya, kalau memang minat: perjuangkan. Jangan berpangku tangan dan berharap dengan minat tingkat dewa dan embel-embel "cita-cita dari lahir" bikin kamu bisa mampu berkuliah di program studi idaman. Mau kuliah Psikologi tapi nggak bisa Bahasa Inggris? Belajar. Mau kuliah Teknik tapi nggak jago Matematika? Belajar. Pisau tajam karena diasah—begitu juga dengan kemampuanmu.

Pastinya ada juga kemampuan-kemampuan lain yang mungkin nggak diajarkan secara formal di bangku sekolah, namun dibutuhkan untuk dapat mengenyam studi di bidang tertentu seperti public speaking atau bahasa asing (selain bahasa inggris). Don’t worry, kamu bisa mengasah kemampuan-kemampuan ini lewat ekskul, les, kursus, atau kegiatan luar kelas lainnya. Banyak jalan menuju Roma!

 

Tes Kepribadian dan Minat Bakat Menentukan Program Studi Kuliah, Benarkah?

Serius, deh, bisa mengenal diri sendiri dengan menyeluruh dan mendalam, tuh, prosesnya nggak sebentar. Kamu butuh waktu untuk “nanya-nanya” diri kamu sendiri yang bahasannya pun mungkin nggak bakal ada habisnya.

Lho, terus gimana ceritanya kalau kamu udah mau lulus sekolah? Udah nggak ada waktu untuk mengenali diri dan merancang masa depan, dong?

Nggak juga, kok. Di zaman serba canggih ini, ada cara cepat untuk bisa mengenal dirimu dengan mudah, yaitu dengan mengikuti tes minat bakat. Dengan mengikuti berbagai jenis asesmen psikologi, kamu bisa mengenali kepribadian, minat, kemampuan, gaya belajar, bahkan personal value yang kamu miliki. Bahkan, di Youthmanual, kamu bisa langsung mendapatkan rekomendasi program studi yang sesuai dengan dirimu. Wih!

Mengikuti tes minat bakat sebelum menentukan program studi kuliah memang akan sangat membantu, tapi bukan berarti pertanyaan “aku harus ambil program studi apa?” akan langsung terjawab, lho. Terkadang, ada satu atau dua hal yang bikin kamu masih kurang sreg dengan hasil yang kamu dapatkan. Jadinya kamu malah meragukan keabsahan ikutan tes minat bakat dalam membantu menentukan program studimu, deh.

Biar nggak bingung atau salah kaprah soal asesmen/tes kepribadian dan minat bakat serta pilihan program studi kuliah, kamu perlu cari tahu lebih dalam soal tes tersebut. Dimulai dengan meluruskan miskonsepsi yang sering muncul berikut ini.

1. “Berarti nantinya harus pilih program studi yang sesuai hasil tes minat bakat, dong?”

Asesmen/tes kepribadian serta minat bakat merupakan modul psikologi yang dirumuskan untuk melihat kecenderungan psikologis seseorang. Ada tes kepribadian dan minat bakat yang hasilnya dilengkapi rekomendasi jurusan/program studi kuliah serta karier yang sesuai, namun ada juga yang nggak.

Melalui jawaban pada asesmen/tes, bisa dilihat berbagai kecenderungan seseorang, termasuk hal yang diminati, potensi, kekuatan, serta kelemahan diri. Dari situ bisa disimpulkan pula mana saja jurusan kuliah yang pas.  Tentunya menentukan jurusan kuliah yang sesuai bukan pakai ilmu "cocoklogi" alias ngasal.  Semua dilakukan secara ilmiah, yaitu dengan pendekatan ilmu psikologi. Makanya, tes minat bakat yang sahih nggak bisa sembarang dilakukan. Harus disupervisi oleh ahlinya, yaitu Psikolog.

Walaupun tes kepribadian serta minat bakat tersebut terpercaya, namun bukan berarti wajib mengikuti apapun jurusan yang tertera pada hasilnya, lho.

“Salah satu miskonsepsi soal tes minat bakat adalah menganggap rekomendasi jurusan dari tes minat bakat sebagai 'resep' yang harus diikuti mentah-mentah,” ujar Kak Shanti.

Yup, namanya juga rekomendasi. Idealnya, hasil tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan kamu dan bisa didiskusikan bareng orangtua, mentor, atau guru BK. Jangan salah, rekomendasi program studi kuliah (dan karier) akan sangat membantu, bahkan penting, dalam pertimbangan dan proses memilih jurusan, lho. Tapi ingat: hasil rekomendasi jurusan BUKAN “resep” yang harus langsung diikuti.

2. “Tes kepribadian dan minat bakatku ngaco banget. Hasilnya nggak sesuai sama yang aku mau!”

Di sisi lain, ada juga orang yang langsung menyimpulkan bahwa hasil tes kepribadian dan minat bakatnya nggak tepat ketika rekomendasi pilihan program studi yang diberikan nggak sesuai apa yang mereka harapkan.

“Miskonsepsi lainnya adalah merasa hasil tes tidak akurat karena tidak sesuai dengan keinginan. Padahal mungkin memang jurusan yang diinginkan kurang didukung oleh kemampuan, minat, atau gaya kerja yang ia miliki," Kak Shanti membeberkan.

Selain faktor yang disebutkan Kak Shanti, bisa juga hasil tes dan rekomendasi program studi menjadi tidak akurat karena masalah orang yang menjalani tes—alias kamu. Yup, kemungkinan yang “ngaco” bukanlah asesmen/tesnya, melainkan human error yang terjadi pada diri kita saat melakukan tes, lho. Ini bisa karena pengaruh situasi dan kondisi sekitar yang nggak kondusif saat menjalani tes atau jawaban yang nggak apa adanya.

Kalau kamu ingin hasil yang optimal dan mendapatkan rekomendasi program studi kuliah yang jitu, sebelum menjalani tes minat bakat, kamu wajib memperhatikan hal-hal berikut ini.

  • Pastikan dirimu dalam kondisi fit, karena hal ini bisa mempengaruhi performa dan tingkat konsentrasimu.
  • Pastikan pula kamu nggak dalam keadaan lapar, capek, atau mengantuk saat menjalani tes. Maka, penting untuk makan terlebih dahulu dan tidur yang cukup menjelang tes. Jangan pula melakukan hal yang bikin kamu kelelahan, seperti main futsal 2 set atau nimba air sumur.
  • Nggak melakukan tes sambil nge-game, nonton televisi, ngobrol, kayang, atau hal lain yang bisa mengganggu fokus.
  • Nggak mengaktifkan alat komunikasi selama menjalani tes/asesmen.
  • Jujur. Nggak membuat-buat jawabannya atau berusaha menjadi orang lain. Apalagi kalau sampai nyontek. Etdah, ini bukan Ujian Nasional.
  • Menghindari hal-hal yang bisa bikin konsentrasi kamu buyar. Misalnya, telat datang tes atau cekcok sama pacar tepat sebelum tes dimulai.
  • Perhatikan petunjuk pengerjaan beserta waktu yang diberikan. Jangan sampai hasilnya kacau karena kamu nggak teliti atau malas membaca arahannya.

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©